Rabu, 26 November 2014

Tuhan, Inilah Jeritan Hambamu

Tuhan. . .
Aku tau mungkin ini salahku. Aku yang memilih jauh darinya. Dan sekarang aku benar sungguh merasakan pilunya kalbuku karena keadaan ini.
Tuhan. . .
Seberat inikah aku harus menjalaninya, aku terlalu rapuh Tuhan. Tak bisakah engkau memutar waktu yang telah berjalan ini. Aku lelah sangat Tuhan. Lelahku sungguh tak terkira. Kadang terfikir dibenakku untuk terbang jauh dari hidup yang kini sedang aku lalui. Tapi itulah hayalku semata, aku tetap harus menjalaninya.
Tuhan. . .
Putarlah malam sehingga datang dengan cepat, supaya perih ini tak terlalu lama aku merasakannya. Biarlah aku terlelap dalam mimpi indahku. Dan saat aku terbangun nanti. Aku ingin menyapa bidadari kecilmu yang selalu memguatkanku.
Tuhan. . .
Perlahan aku tau, inilah jalan hidup yang telah kau gariskan kepadaku. Dan sekarang aku akan coba menjalaninya dengan senyuman getir yang aku coba paksakan. Setidaknya aku tau engkau masih menyayangiku dengan cobaan ini

Selasa, 25 November 2014

Rasaku . . .

Pernahkah kamu tau bagaimana perihnya hati seorang gadis kecil yang sedang merasakan kesan pertama kesungguhan jatuh cinta tetapi di sakiti ??
Itu sunggu perih,
Tapi tak pernah sedikitpun kau mencoba membuka hatimu sedikit saja untuk gadis kecil yang hanya mampu mengagumimu dari kejauhan ini
Aku hanya mampu melihat dan merasakan adanya kamu tanpa mampu menyentuhmu
Sedangkan untuk menyentuh, sekedar mendekatimu saja sudah terlalu merasakan sakit dan pilu direlung hati
Kamu datang disaat aku membutuhkan kesejukan kala api kehidupan membakarku dengan kesewenang-wenangannya
Tapi engkau hadir menebarkan embun kesejukan untukku, untuk hidupku
Kehadiranmu membuka celah baru untukku menatap masa depan dengan lebih mendongak.
Tetapi di kala embun itu semakin sejuk aku rasakan, tiba-tiba kamu membuat kobaran api yang bergejolak
Sakit, sungguh sakit kakak.
Harapan palsumu membakar dan meruntuhkan seluruh tiang penyangga hatiku.
Bahagialah bersamanya. . . Aku tak apa :)

Minggu, 03 Februari 2013

SEPOTONG MAAF UNTUK MAMA

"Ki... Tolongin mama sebentar dong."
Aku merungut sambil beringsut setengah malas. Beginilah nasib jadi anak satu-satunya di rumah. Sejak bang Edo kuliah di Jakarta, akulah yang jadi tempat mama minta tolong. Biasanya bang Edolah yang mengantar mama ke supermarket, ke pengajian, atau sekadar membawakan tas mama yang pulang dari kantor. Rajin ya ?

Memang begitulah abangku yang satu itu. Sedang aku ? Wuih, biasanya aku dengan bandelnya menghindar. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lari lagi.

"Ki, anterin mama ke rumahnya bu Dedi ya ? Ada arisan."
Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Aduh, rasanya malas sekali harus menghabiskan berjam-jam bersama ibu-ibu. Belum lagi nanti ditodong pertanyaan, "Mana nih calonnya? Kan kuliahnya sudah tingkat akhir...". Risih saja ditanya hal-hal semacam itu.
"Mmm, ini Ma. Kiki mau belajar, nanti ujian." "Yah, Ki. Kan cuma sebentar. Paling dua jam..." "Soalnya bahannya banyak banget, Ma. Nanti Kiki dapat nilai jelek lagi." "Ya, sudah. Mama pergi sendiri..."

Aku menunduk sambil pergi. Rasanya tidak enak melihat sinar kecewa di mata mama. Memang, sejak papa meninggal, mama makin sering minta ditemani ke mana-mana. Mungkin mama kesepian.
Di hari kerja, mama disibukkan dengan urusan kantornya. Sedang di akhir pekan, mama selalu minta ditemani anak-anaknya. Kalau bang Edo sih anak manis. Dia mau saja menuruti keinginan mama. Kalau aku dilarang pergi di akhir pekan, rasanya seperti hukuman. Maklumlah aktivis. Kesempatan ada di rumah tidak terlalu banyak.

Aku masuk ke dalam kamarku dan mulai membuka buku. Sebetulnya aku tidak bohong sih. Memang akan ada ujian. Tapi sebenarnya masih dua minggu lagi. Jadi aku tidak bohong kan? Aku berusaha berkonsentrasi memahami apa yang tertulis di buku tebal itu. Entah kenapa pikiranku malah melayang-layang. Dari jauh terdengar derum mobil mama menjauh dari rumah. Ada perasaan bersalah yang menyelip di hatiku.

Akhir pekan berikutnya, bang Edo pulang ke Bandung. Aku sih biasa-biasa saja. Tapi, mama senang sekali. Semalam sebelumnya, mama memasakkan semua masakan kesukaan bang Edo. Ah, dasar anak kesayangan. Tapi aku tidak iri. Biarkan saja. Setidaknya akhir pekan ini aku bebas berkeliaran. Tugas jadi pendamping mama diambil alih bang Edo untuk minggu ini.

"Ki, kenapa sih kamu nggak mau nganterin mama ?", tanya bang Edo sambil mencomot sebuah pisang goreng dari atas meja. Aku hanya melirik sekilas dari komik yang sedang aku baca. "Ya, biarin aja. Mama kan udah gede. Pergi sendiri kan juga bisa."
"Masa kamu nggak kasian ? Mama tuh sedih banget lho sama kelakuan kamu."
"Kata siapa ?"
"Mama sendiri yang bilang."
"Kan bisa dianter supir. Masa abang nggak ngerti sih ? Urusanku kan banyakjuga."
"Huu... Mana, cuma baca komik gitu !"

Aku cuma bisa nyengir tersindir. Tak lama kemudian abang pergi bersama mama. Kelihatannya mereka akan pergi ke resepsi pernikahan. Habis, bajunya rapi sekali. Tawaran untuk ikut seperti biasa aku tolak.

"Ki, mama minta tolong dong..."
Aku menyumpalkan tangan ke telinga. Aduh, mama.... Belum sempat aku menjawab, mama sudah melongok ke dalam kamar. Aku hanya bisa meringis.
"Ki, tolong ambilin berkas kerja mama di bu Joko dong." "Lho, kok bisa ada di bu Joko, Ma ?" "Iya, tadi habis pulang dari kantor, mama mampir dulu ke sana. Kayaknya berkas-berkas itu ketinggalan deh di sana. Soalnya di mobil udah nggak ada. Bisa nggak kamu ambilin ?"

Aku melongo. Rasanya ingin teriak. Kali ini aku benar-benar sibuk !
Besok ada dua tugas yang harus dikumpulkan. Belum lagi sorenya ada
ujian akhir. Mana sempat mampir-mampir ke rumah orang ? Mana sudah malam begini...
"Aduh, Mama.... Kiki bener-bener sibuk... Besok ada ujian dan
tugas-tugas yang harus dikumpulin. Jadi..." "Ya, udah kalo kamu nggak mau.", balas mama dengan ketus.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dan kembali mengerjakan tugasku.
"...Kamu tuh memang nggak pernah kasihan sama Mama...", bisik mama lirih dengan sedikit terisak.

Suara mama sedikit sumbang. Sepertinya mama sedang terkena flu. Aku menatap langit-langit dengan lesu. Dengan lemas akhirnya aku memanggil mama. "Iya deh Ma... Biar Kiki yang pergi..."

Gelap. Gelap sekali. Apalagi banyak lampu jalanan yang sudah mati.
Jalanan jadi tidak jelas terlihat. Capek rasanya harus berusaha
melihat. Itulah sebabnya aku tidak suka menyetir malam-malam.

Rumah Bu Joko sebenarnya tidak jauh dari rumah kami. Tapi karena sudah malam, palang-palang jalan di kompleks itu sudah diturunkan dan tidak ada penjaganya. Jadinya, aku harus mengambil jalan memutar yang letaknya cukup jauh. Kalau tidak salah, satu-satunya palang yang tidak ditutup ketika malam adalah... Ah, dari sini belok kiri.
Astaghfirulllah... Ternyata ditutup juga... Aku membaringkan kepalaku di atas kemudi. Rasanya penat sekali. Entah, harus masuk ke kompleks ini lewat jalan yang mana. Akhirnya kususuri perumahan itu jalan demi jalan. Semuanya terkunci. Setelah setengah jam berputar-putar, barulah aku menemukan jalan masuknya. Jalan itu begitu sempit. Jika ada dua mobil berpapasan dari arah yang berlawanan, pastilah salah satunya harus mengalah.

Rasanya lega sekali ketika sampai di depan rumah bu Joko. Kutekan
belnya sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap tidak ada jawaban.
Tiga kali, empat kali, hasilnya tetap sama. Aku menunduk lesu.
Jangan-jangan Mereka sudah tidur... Hampir saja aku berbalik pulang.
Tapi kata-kata mama terngiang di kepalaku. "Tolong ya Ki... Soalnya
berkas-berkas itu mau mama pakai untuk presentasi besok pagi."
Akhirnya dengan menelan setumpuk rasa malu, kutekan lagi bel rumah mereka sambil mengucapkan salam keras-keras.

Dari belakang aku mendengar suara berdehem. Aduh, ada hansip. Aku
menangguk basa-basi. Aduh, mama ! Bikin malu saja ! "Oh, kertas apa ya ?", tanya bu Joko dengan mata setengah mengantuk. Dasternya melambai-lambai kusut. Aku jadi tidak enak sendiri menganggu malam-malam begini.
Menit-menit selanjutnya, kami berdua mencari-cari berkas yang dikatakan mama. Tidak hanya di ruang tamu. Tapi juga di ruang tengah, ruang makan dan dapur. Soalnya tadi mama juga mampir di tempat-tempat itu. Ternyata tetap saja hasilnya nihil. Lalu aku menelepon ke rumah.
"Ma, berkasnya nggak ada tuh. Mama simpan di map warna apa ?"
"He..he...he...Udah ketemu, Ki. Ternyata sama bi Isah diturunin dari mobil terus ditaruh di meja makan."
"Tau gitu kenapa nggak telpon Kiki ! Kiki kan bawa handphone !"
"Wah, maaf Ki... Mama nggak tahu kamu bawa handphone. Mama kira..."
"Ah, udahlah ! Mama nyusahin Kiki aja !"
Aku lantas membanting gagang telepon dengan sedikit kejam. Aku berbalik dan menemukan bu Joko menatapku dengan tatapan ngeri. Aku memaksakan sebuah enyum, minta maaf lalu pamit secepatnya.

Setengah ngebut aku memacu mobilku. Hujan rintik-rintik membuat ruang pandangku semakin sempit. Nyaris jam dua belas malam. Hah, dua jam terbuang percuma. Kalau dipakai untuk mengerjakan tugas, mungkin sekarang sudah selesai... Dasar mama ...

Brakkk!!! Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Bunyinya seperti kaleng yang robek. Sesaat aku merasa semuanya semakin gelap. Aku tidak bisa lagi membedakan mana atas dan bawah. Sekujur tubuhku seperti dihimpit dari berbagai arah. Sejenak kesadaranku seperti lenyap.

Penduduk-penduduk sekitar mulai berdatangan. Mereka membantuku keluar dari mobil yang sepertinya ringsek parah. Mataku dibasahi sesuatu. Ketika kusentuh, rasanya lengket. Ya Tuhan, darah... Tubuhku lebih gemetar karena takut daripada karena sakit.

"Neng, nggak apa-apa neng ?", tanya seseorang.
Aku berusaha berdiri walau sempoyongan. Kucoba menggerakkan tangan, kaki, serta mencek apakah semuanya masih ada. Kupejamkan mata dan berusaha mencari sumber sakit. Sepertinya tubuhku baik-baik saja. Tidak ada yang patah.

Aku menatap rongsokan mobilku dengan tidak percaya. Ternyata aku
menabrak sebuah truk besar yang sedang diparkir di pinggir jalan.
Sumpah, aku tidak melihatnya sama sekali tadi !

"Neng, nggak apa-apa ?", ucap seseorang mengulangi pertanyaannya. Aku berusaha menjawab. Tapi yang terasa malah sakit dan darah. Orang di hadapanku lalu mengucap istighfar. Barulah aku sadar apa yang menyebabkannya. Darah segar berlomba mengucur dari mulutku. Lidahku... Aku langsung tak sadarkan diri.

Ketika tersadar, aku sudah berada di rumah sakit. Rasa nyeri mengikuti dan menghajarku tanpa ampun. Air mata menetes dari mataku... Ya Tuhan, sakit sekali....

"Udah, Ki. Jangan banyak bergerak. Dokter bilang kamu butuh banyak
istirahat."
Aku hanya bisa menatap mata mama yang sembab tanpa bisa menjawab sepatah kata pun. Hanya bisa mengeluarkan suara merintih yang menyedihkan. Mama ikut menangis mendengarnya. Aku hanya bisa mengira-ngira. Dan dokter pun membenarkannya. Kecelakaan itu tidak mencederaiku parah. Tidak ada tulang yang patah, tidak ada luka dalam. Hanya satu, lidahku nyaris putus karena tergigit olehku ketika tabrakan terjadi. Akibatnya aku lidahku harus dijahit.

Sayangnya tidak ada bius yang bisa meredakan sakitnya. Setelah itupun dokter tidak yakin aku bisa berbicara selancar sebelumnya. Tangisku meluber lagi. Yang langsung teringat adalah setumpuk kata-kata dan perilaku kasar yang selama ini kulontarkan pada mama. Ini betul-betul hukuman dari Tuhan ...
Walau sepertinya hanya luka ringan, namun sakitnya teramat sangat. Setiap kali jarum disisipkan dan benangnya ditarik, sepertinya nyawaku dirobek dan dikoyak-koyak. Aku hanya bisa melolong tanpa bisa melawan. Apa boleh buat. Kata dokter kalau lukanya di tempat lain, sakitnya mungkin bisa diredam dengan bius. Tapi tidak bisa jika lukanya di lidah.

Hari-hari selanjutnya betul-betul siksaan. Lupakanlah tentang kuliah,
tugas atau ujian. Untuk minum saja aku tersiksa. Aku menjerit-jerit
tiap ada benda yang harus melewati mulutku. Agar tubuhku tidak
kekurangan cairan, tubuhku dipasangi infus. Aku hanya bisa menangis. Menangis karena sakit, dan penyesalan. Selama aku dirawat, mamalah yang dengan telaten menungguiku. Dengan sabar ia membantuku untuk apapun yang aku perlukan.

Kami hanya bisa berkomunikasi lewat sehelai kertas. Berkali-kali aku tuliskan, "Mama, maafkan Kiki..." Mama juga sudah berkali-kali mengatakan telah memaafkan aku. Tapi tetap saja rasa
bersalah itu tak kunjung hilang. Ini benar-benar peringatan keras dari
Tuhan. Aku benar-benar malu. Walau aktif di kegiatan keagamaan,
ternyata nilai-nilai itu belum benar-benar mengalir dalam darahku. Aku tersenguk-senguk setiap ingat bagaimana cara aku memperlakukan mama.

Bagaimana mungkin aku merasa diberatkan dengan permintaannya padahal aku sudah menyusahkannya seumur hidup? Tuhan, ampuni aku... Aku benar-benar telah membelakangi nuraniku sendiri.... Jangan biarkan aku mati sebagai anak durhaka.... Kukira penderitaanku berakhir jika sudah diizinkan pulang ke rumah. Ternyata hukuman ini belum berakhir di situ. Bulan-bulan selanjutnya aku harus berlatih mengucapkan kata-kata yang selama ini mengalir mudah dari bibirku. Kembali lagi mama membimbingku belajar bicara seperti yang ia lakukan ketika aku kecil.

Himpitan penyesalan itu baru hilang ketika kata-kata itu berhasil
kuucapkan walau patah-patah. "Mama... Maafkan Kiki..."


Sumber : Ariyanti Pratiwi - Mahasiswi Matematika '99 ITB

TERIMAKASIH TUHAN, TELAH MENGINGATKANKU

Sore, pulang kantor, seperti biasa aku menunggu bis didepan Chase Plaza, untuk membawaku pulang, bertemu dengan kedua anak-anakku yang masih berusia 2 tahun dan 9 bulan. Mikhail dan Fara namanya. Cuaca menggerahkan tubuhku.

Penat seharian kerja, dengan segala masalah yang ada selama bekerja. Sudah seminggu ini aku selalu lupa menanyakan keadaan kedua anakku Entah menanyakan sudah makan siang atau belum, bagaimana keseharian mereka, atau hanya sekedar memainkan telfon untuk mendengarkan suara sang buah hatiku, si sulung Mikhail yang sudah banyak bicara. Bahkan aku juga lupa bahwa saat ini kedua buah hati tercinta sedang sakit flu. Aku terlalu sibuk sehingga sempat melupakan mereka. Tapi ah, aku pikir aku meninggalkan buah hati bersama orangtuaku dan pengasuhnya. Jadi, untuk apa aku pusingkan akan hal itu? Jahatkah aku?

Aku rasa betul, aku jahat. Tapi aku lebih mementingkan pekerjaanku
daripada keluargaku.

Aku termenung. Tadi pagi sebelum berangkat aku lagi-lagi lupa membekalkan suami dengan dua potong roti omelete kesukaannya. Aku juga lupa membekalkan teh hangat manis dimobilnya. Aku sempat merajuk gara-gara suamiku menanyakan sarapan rutinnya untuk dimobil. Aku kan cape Mas, aku kan harus siapkan bekal anak-anak sebelum mereka dititipkan ketempat Oma-nya. Aku kan harus selesaikan cucian sebelum aku mandi tadi pagi. Dan sejuta alasanku untuk tidak lagi dibahas masalah sarapan rutin mobil. Dan ini sudah terjadi selama satu minggu pula. Ah, aku juga melupakan kebiasaanku yang disukai suami, ternyata. Bahkan, aku lupa minta maaf dengan kelakuanku seminggu ini.

Bahkan, akupun lupa Shalat sudah seminggu ini !!! Alangkah ajaibnya diriku. Tapi kurasa Tuhan mengerti. Begitu pikirku selama dikantor. Dan akupun tenggelam dengan pekerja anku dikantor.

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5.25 sore, langit mendung, dengan udara lembab. Haus. Aku lupa minum sebelum pulang tadi. Mestinya aku sediakan segelas minum untuk bekalku diperjalanan. Aku membutuhkan 2 jam perjalanan dari kantor sampai rumahku di Bintaro. Lagi-lagi, alasan sibuk yang membuatku lupa membawa gelas hijauku yang dulu biasa "tidur" dalam tasku.

Pada saat itulah mataku tertuju dengan 2 orang kakak beradik, anak pengamen jalanan. Tidak beralas kaki, kotor dan kumuh. Usia mereka sekitar 4 dan 2 tahun. Mataku tertuju dengan sang adik. Wajahnya kuyu. Kotor dan diam. Terlihat wajah manisnya walaupun kurasa anak kecil itu tidak pernah mandi. Tidak beralas kaki. Terlihat ada luka ditelapak kakinya yang mungil, semungil telapak kaki buah hatiku Mikhail. Sang adik tertawa saat seorang wanita muda memberikan pecahan Rp. 2000 kepada kakaknya. Alangkah senangnya si kakak. Diberikan selembar kepada sang adik, dan sang a dikpun menerima dengan hati riang. Dipandangnya uang lembaran Rp. 1000 itu sambil bernyanyi kecil. Ah, dia menyanyikan lagu masa kecilku dulu. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Aku membayangkan buah hatiku Mikhail menyanyikan lagu itu. Pasti tangannya tidak lepas dari pipiku, karena pada bait lagu "dor" buah hatiku selalu memukul pipiku.

Aku tersenyum pada si kecil. Suaranya. Ya, suaranya masih pula cadel. Tangan kanannya memegang lembaran seribuan, tangan kirinya memegang alat musik kecrekan dari tutup botol. Alangkah polos wajahnya. Sang kakak duduk ditrotoar sambil menghalau lalat yang berseliweran dikepala adik. Kutahu, pasti dia tidak keramas. Uh, mandi saja mungkin jarang apalagi mencuci rambut?

Tiba-tiba saja, waktu sudah menunjukkan pukul 5.35 sore. Belum gelap. Tapi aku tak tahu sudah berapa bis jurusanku yang terlewatkan karena kekhusyukanku memandang 2 bocah polos didepanku?. Aku rogoh dompetku. Duh, makin menipis. Aku harus beli susu sang buah hatiku yang kecil. Aku juga harus beli alat kosmetikku yang sudah hancur dimainkan anak sulungku. Pokoknya aku memang harus beli hari ini. Tapi pemandangan didepanku meluluhkan hatiku. Kuambil selembar duapuluh ribuan dan kuberikan kepada sang kakak. Terkejut, tentu saja. Sang adik tidak kalah terkejut. Sambil teriak, sang adik bertanya pada kakaknya: aku bisa makan hari ini ya kak ya. Hhh.. aku tersenyum pilu. Begitu bahagianya mereka menerima lembaran dariku.

Aku tegur kakaknya "kamu berdua belum makan?"
Pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kepala yang pelan. Saat itu juga aku menitikkan air mata. Aku kasihan sekali. Adiknya tidak memakai celana apapun. Bahkan aku bisa melihat bahwa adiknya seorang perempuan. Beberapa orang yang sedang menunggu bis, menjadikan percakapanku dengan bocah-bocah itu sebagai tontonan mereka. Beberapa ada yang memberikan selembar 5000an. Ah, Jakarta !

"Kamu mau makan? Ma u saya belikan makanan?" Lagi-lagi pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kecil. Sang adik tersenyum kepadaku. Ah, polosnya senyuman itu. Tanpa beban. Tanpa arti. Tapi yang kutahu, senyuman itu senyuman bahagia dari kepolosannya. Aku ajak mereka ke sebuah warung nasi Padang didekat Chase Plaza, kantorku. Aku tawarkan makanan sesuka mereka. Raut wajah mereka memucat. Aku mengerti, mereka sudah lapar dan dahaga. Kupandangi mereka makan. Duh, lahapnya. Aku sendiri tidak makan seharian tadi, karena lagi-lagi kesibukanku dikantor. Apakah aku sudah sedemikian kuatnya sehingga aku mampu melupakan makan siang, mampu melupakan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari 2 orang buah hati terkasih?

Aku ambil rokok mentholku, dan kuhisap perlahan. Duh, rokok tidak pernah lepas dariku, seakan dialah pasangan hidupku. Kuperhatikan sang adik. "Siapa nama kamu?" Jawaban malu-malu keluar dari bibirnya "Ririn, Ibu". Ah, namanya Ririn. Sebuah nama indah.

Tapi kenapa nasibnya tidak indah?. Aku melamun. Tiba-tiba saja aku jadi cengeng luar biasa. Airmataku menitik. Duh, sejahat inikah yang namanya Jakarta? Hingga mampu menciptakan dua orang bocah yang sedang makan dihadapanku menjadi pengamen jalanan dengan alat kecrekan seadanya ditengah-tengah gedung tinggi? Bahkan, celana dalampun mereka tidak punya. Mungkin punya, tapi cuma beberapa. Aku tidak menanyakan hal itu. Kurasa tidak perlu. Bodohnya aku !.

"Kamu rumah dimana?" Aku tidak mendapatkan jawaban. Hanya gelengan kepala si kecil. Ah, mereka tidak punya rumah. Rumah mereka di bedeng kardus, dekat stasiun Senen. "Jalan kaki dan numpang bis dari Senen untuk ngamen" kata sang kakak. Aku melamun. Kuhisap rokokku dalam-dalam. Rumah kardus? Pengap? Tanpa orang tua? Nyamuk? Penyakit? Kotoran dimana-mana? Adakah yang peduli dengan masa depan Ririn kecil? Adakah yang peduli? Kenapa mereka ada di Jakarta? Kenapa bisa bertemu denganku disini?

Tiba-t iba saja lamunanku buyar. "Ibu, terima kasih kami sudah makan enak".
Mataku berkaca-kaca. "Ya, sama-sama. Semoga kamu kenyang dan senang" jawabku berat. Ririn kecil tersenyum. Kurasa ia kekenyangan. Keringat didahinya berbicara. Lalu ia mulai memainkan kecrekan gembelnya. Bunyinya tidak beraturan. Tidak ada nada sama sekali. Hanya suara cadelnya yang membuatku tersenyum. Aku berkaca-kaca. Senangnya bisa memberikan arti buat mereka. "Ibu, jangan melamun. Aku mau nyanyi buat Ibu". Ah, menyanyi? Buatku? Apa istimewanya aku?. Aku tertegun. Suara cadel itu. Suara polos itu. Mereka menyanyikan sebuah lagu untukku. Aku tidak mengerti lagunya. Tapi terdengar indah ditelingaku. Ah, aku diberi hadiah: lagu !.

"Sekarang kamu berdua pulang. Masih ada yang merindukan kamu berdua. Ini bekal buat dijalanan". Aku berikan selembar duapuluh ribuan, seliter air mineral, roti manis dan sandal buat kedua bocah itu. Kebesaran. Tapi tidak apa. Mereka senan g sekali memakai sandal baru. Aku pandangi kedua bocah dengan senyum. Mereka berlarian mengejar bis. Entah kemana lagi mereka pergi. Mencari uang lagikah? Atau pulang kerumah kardus mereka di pinggiran stasiun Senen seperti ucapan mereka tadi? Aku terharu, air mataku menetes. Ah Jakarta... jahat sekali kamu.

Sudah jam 7 lewat 10. Aku pasti terlambat sekali sampai rumah ibuku. Aku harus menjemput buah hatiku dan setelah itu pulang kerumahku. Aku duduk dalam bis. Terdiam. Aku lagi-lagi meneteskan airmata. Apakah aku ditegur Tuhan? Apakah aku disentil olehNya? Mata polos itu. Mata polos itu menegurku, Tuhan.

Aku lupa bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya untukku. Aku lupa dengan anak-anakku. Aku lupa dengan suami dan tanggung jawabku sebagai ibu dan istri. Mata Ririn kecil menusukku tajam. Aku ditegur olehnya. Oleh mata kecil polos tanpa duka itu.

Fara kecil tertidur dipangkuanku. Mikhail, buah hatiku yang sulung dengan mesra mem ainkan rambut Papanya. "Papa, hari ini aku sudah bisa belajar mewarnai. Hari ini aku tadi makannya banyak. Aku tadi mau minum obat. Aku hari ini jadi anak Papa yang pintar". Celotehannya yang cadel membuatku tersenyum berkaca-kaca. "Mikhail enggak mau cerita dengan Mama?" tanyaku. "Mikhail enggak mau cerita dengan Mama. Mama kan mama yang sibuk". Bahkan si sulungpun kini sudah mulai menjauh dariku. Dia malah lebih sayang dengan Papanya. Suamiku. Duh, rasanya seperti tertusuk jarum. Sakit. Tapi aku diam. Ini memang semua salahku.

Tertidur. Mikhail dan Fara tertidur sudah. Tanggapan akan ceritaku dari suami, hanya tersenyum. Bijaksana sekali. "Itulah teguran Allah untukmu. Maka bersujudlah. Mohon ampun padaNya". Malam itu juga aku Shalat. Memohon ampun pada yang Kuasa atas kemalasanku sebagai Ibu. Mohon ampun telah melupakanNya.

Kupandang kedua wajah polos buah hatiku tercinta. Pulas. Tampak genangan liur dibantal mereka. Far a tersenyum. Buah hati kecilku itu kalau tidur memang suka tersenyum kecil. Sayangnya Mama...

Setetes air mata kembali mengalir dipipiku. Entah siapa kedua bocah yang kutemui sore tadi sepulang kantor, entah siapa Ririn kecil yang memandangku polos, entah siapa yang telah menyanyikan sebuah lagu untukku disebuah warung nasi. Yang aku tahu, mata lugu itu telah menegurku dengan sangat tajam. Terima kasih Allah, telah mengirimkan dua bocah kecil, miskin tiada arti, untuk merubah hidupku. Mungkinkah mereka Engkau kirim untukku?

Jakarta, February 20, 2003 Dari seorang Ibu.

Kamis, 24 Januari 2013

Kebahagiaan yang Terbalut Kesedihan

“OMAIGAAAATTT INI JALANAN KAPAN GAK MACETT SIIIIIHH?!” Gue teriak sambil jambak rambut gue sendiri di dalem mobil jazz biru gue, abis kesel banget udah jalan sepagi apapun juga masih telat juga telat juga.. Hadooohh!! Oiya, nama gue Thalika Sanidindya. Panggil aje Dindya... Gue sekolah di SMA Karunia Bangsa 3 kelas 12. Balik ke MACET. Letak sekolah yang kurang strategis membat macet dimana mana, ya gitu dehh.. Namanya juga demi sekolah. Iya gak? Okeh. Sekarang gua lagi di pertigaan lampu merah, ya kira kira 150 meter lagi deh sekolah gue, dan harus muter balik dulu juga. Saat melewat lampu merah gue udah bisa ngeliat lapangan sekolah.. OMG! Udah telat gue cuyy!!

                  Gue bunyiin klakson gue kenceng-kenceng, TINN TINNN!!!!! Akhirnya gue udah nyampe tempat muter balik dan langsung deh gue parkir mobil gue. Di pintu gerbang................. “Ma.. Maap Pak Saya terlambat..” Ucap gue dengan tampang melas plus kucel ama Pak Sutomo. Pak Sutomo hanya terdiam dan menatap gue tajam. Ternyata hari ini yang jadi guru piket.............................................. Pak Sutomo. Siapa sih sama yang gak tau Pak Sutomo?! Pak Sutomo yang mengajar Physics, terkenal tegas, menyeramkan, juga menakutkan....................................... Oke, gue tulis nama gue di buku pelanggaran untuk ke 10 kalinya. Sedih banget yakk.. “Kamu! Jangan ikut pelajaran saya selama 5 jam pelajaran!! Ingat itu! Dan sekarang! Naik keatas dan turun ke bawah selama 10 kali! Dan jika besok kamu terlambat lagii?! Hukuman yang lebih berat telah menunggu!!Mengerti Dindya??!!”

                OMG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Seperti sekolah yang kebanyakan, sekolah ini mempunyai 4 lantai.. “Iya Pak.” Kata gue lirih.......Oke sip. Gue mau menjalani hukuman dulu yeee........... Huuffttt


***
                Hhhhhh... Akhirnya selese juga nih hukuman gue. Langsung aje gue tancep gas ke kantin.. Laper bung!! Sangking lapernya gueee! Lari-lari ke kantin dan.................................. Gubrakk!!!!!!!!!!!!! “AWWWWW!!!!!!!!” Upss! Gue nabrak................. Cowok?

                Seorang cowok yang tinggi standar pemain NBA berkulit putih dengan rambut cepak dan........... KECENYA GAK NAHAAAAAANNN!! Gue terpana dengan pandangan pertama XD Akhirnya gue bantuin tuh cowok, kayaknya dia anak baru dehh..

                “Eh, maap yak gue gak hati-hati, makanan lo jadi jatoh deh..” Ucap gue sambil bantuin tuh cowok bangun *enggak lupa senyum semaniss manissnya. “Iya gapapa.” Katanya singkat seraya tersenyum tipis bikin jantung gue mau meledak !!! Gue langsung ngajak dia gantiin makanannya yang jatoh itu.

               Dan akhirya kita (?) makan berdua di taman sekolah. “Eh kayaknya lo anak baru ya?” Kata gue membuka percakapan. ‘Iya.. Gue anak kelas XII-B ngambil Ipa.” Katanya sambil menyeruput  mie nya.”Eh sama kayak gue!” Kata gue kesenengan (-_-“). “Ohya? Kok tadi gue gak ngeliat elo ya?” Tanyanya polos.”Tadi gue telat jadi dihukum dulu...” Kata gue apa adanya.. Lagian ngapain boong?
                “Eh nama gue Avri.. Lo?” Katanya sambil mengulurkan tangannya. “Gue Dindya..” Kata gue sambil menambut tangannya. Gak sadar, gue enggan melepaskan tangan gue dari tangan dia. Gue pun ngeliatin diaaaa terus. Sampe akhirnya... “Eh Dindya lo gapapa kan?” Tanya dia lugu. “Ohhh iya kok gapapa” Gue segera melepaskan tangan gue dan......... KRIIIIIIINNGG!!! THE BREAK TIME IS END. PLEASE  BACK TO YOUR CLASSROOM!

             Setelah mendengar bel itu kita berdua langsung beranjak dari taman. Baru aja mau naik tangga.. “Eciyee Dindya  pacar baruuuuu” Ita dan Sari nongol, tapi raut wajah Ita menampakkan kesinis-an. “Apaan sih ah ngaco luu” Gue langsung merangkul mereka berdua dan meninggalkan Avri. “Eh Vri gue duluan yee” Teriak gue dari atas. Sementara itu ternyata Avri udah menghilang dari bawah..............................

                                                                  ***
               Bel sekolah sudah berbunyi... “Eh hang out yuk kemana kekkk” Kata Ita sambil memeluk lengan gue saat melewati pintu kelas. “Aaaaaaahh malesssss” Kata gue singkat. Emang lagi males keluar kok!!”Ayokk bareng guee!” Kata Santi semangat dan tiba tiba jbjb aja ituu -_- Baruu aja gue mau langsung masuk mobil dan tancap gas pulang, Ehh! Tiba-tiba.............. “Ayoo naek mobil gue aja Ta, Sar, Din!!!” Si Avri nongol dan mencegat jalan “Astagaaaa Avri lu ngagetin taukkk” Teriak gue sebel, tapi hati gue tersenyum. “Ahahahaha maap dehh,, gimana? Ta? Sar? Dindyaa??” Tanya Avri H2C. “Hhh... Yaudah dehhh bentar gue mau nelpon kaka gue dulu sekalian titip kunci ke satpam..” Gue pasrah sementara itu Ita dan Santi teriak kegirangan.


              Ternyata si Avri ngajak temen cowoknya yaitu Arya. akhirnya kami ber 5 pun muter muter salah satu mall di Cibubur sampe sore menjelang malem gitu................ Setelah semuanya pulang dianterin Avri tinggal gue ama Avri aja yang tersisa (?) dan Avri pun nganterin gue pulang. Setelah nyampe di depan rumah dan gue buka pintu mobil “TFT ya Avriii” Kata gue sambil hendak menutup pintu mobil. “Sama sama sayangg...” Kata Avri lembut dan gue pun bingung sambil menutup pintu mobil dengan sedikit hentakan. Sayang? Maksud lo apa Vri? Batin gue bingung.Ah!! jangan jangan dia juga suka aa gue lagi awaw beruntung banget gue dapet durian runtuh!!! Sejak itu gue pun berfikiran kalo si Avri suka ama gue dan gue suka ama diaaaa!!

                                                                      ***
                     
                 Hari selasa ini gue gak mau telat dan berniat ngenyemangatin Arvi yang latian paskib buat minggu depan pagi ini. Gue bangun jam 4 dan segera bersiap-siap.. 1 jam berlalu dan gue pun pamit sama Ortu. “Eh kok udah mau berangkat? Gak ke pagian Din??” Kata mak gue setengah sadar. “Gapapa mak berangkat dulu ya makk Assalamualaikummm” Gue nyium tangan mak gue dan tancap gas.
                 1 jam berlalu dan gue udah sampe di sekolah. Aaaaahh!! Itu dia si Avri!!! Yak ampyunn dia makin kece ajahh XD gue pun teriak teriak di pinggir lapangan. ”Avriiiiiiiiiiiiiiiiii semangat yahhh!!” Kata gue teriak sambil melambaikan tangan gue kesenengan. Avri hanya tersenyum manis dan itu sanggup bikin paru-paru gue keluar lewat idung (?). Tapi........... setelah gue perhatikan, ternyata senyuman itu bukan ditujukan buat gue tetapi....................................... Buat Ita yang sedari tadi melambaikan tangan ke Avri di belakang gue.. Tapi gue gak begitu mikirin soalnya Avri aja udah pernah bilang sayang ke guee ;P


                      Istirahat.. Avri ngajak gue ke kantin, namun tanpa disangka Ita jbjb dan ngerangkul Avri, sedangkan gue malah ditinggalin mereka berdua. Ahh bodo ah nanti pdkt ama Av ri nya di bbm ajahh :P

                                                                  ***
                    Pulang sekolah..Setelah gue dapetin pin-nya Arvi, gue langsung Invite dan tentunya langsung Avri accept dong =D “Hai Avri! Lagi apaa? ;;)” Tanya gue dan langsung dia bales “Eh adek Dindya... Lagi bbm an aja neehh :D” Pertamanya gue kaget dipanggil adek, tapi karena gue pikir itu panggilan sayang khusus buat gue, gue pun manggil dia kakak, hari itu rasanya seneeeeeeeeng buangetttt!!! Dan bbm pun berlanjut sampe sore......
                 
                                                                ***
                    
                     Hari-hari gue pun berlalu dengan Avri menjadi pelengkapnya........ Sampe libur smester tiba gue pun iseng nanya ama Avri “Av! Lo ada adek gak sih?” tanya gue dan dia bilang gak ada dengan titik yang puuuuanjaaaang banget dibelakangnya, sebenernya gue bingung artinya apa, tapi forget it. “Gue boleh gak maen ke ruma elo??” Tanya gue lagi. “Bolehhhhh ayok kapan? Mau sekarang???” Tanya dia antusias yang bikin gue senengg gak karuan.”Okehh gue bagi alamat rumah lo dong!!!!!” Gue memutuskan pergi sendiri dan setelah gue dapetin alamatnya tanpa buang buang waktu gue langsung cabut.


                     Rumah Avri yang berada di jalan raya gak sulit gue dapetin. Setelah yakin rumah gedeee dengan cat putih yang ada di depan gue itu rumah Avri gue pun langsung mencet bel 2 kali yang disambut dengan Avrinya langsung, “Ehh adek gue dateng..” Katanya sambil bukain gerbang buat gue. “Ehehehe” Gue cuma ketawa sambil markir mobil gue bersebelahan dengan mobil Avri. “Ayuk maasuk” Katanya sambil mempersilahkan gue masuk.. Wooww rumahnya keren bangett! Dengan desain minimalis modern yang lagi nge-trend, rumah ini elegan deh keliatannyaa!! Gue Cuma bisa bengong sambil duduk di kursi ruang tamu. “Eh lo duduk di  sana aja dehhh...” kata Avri sambil menunjuk kamar di ujung yang pintunya terbuka. “Okehh..” Gue pun beranjak dan duduk di kamar tersebut, kamarnya pink dengan banyak accesoris pink di sekelilingnya.. Sama dehh kayak gue marna favoritnya ping :D. “Gue bikin minum dulu yeee” Kata Avri sambil menutup pintu..


                 Gue liat-liat sekeliling dan.................. sebuah frame kecil bergambar foto. Foto yang miriippp banget ama gue.... tapi sebuah tahi lalat di hidungnya membuat dia sedikitt beda dari gue, gue perhatiinnn terus tuh foto sampe akhirnya... Gue pun terhenyak, menyadari Avri dengan tampang sedih udah di belakang gue.. “Dia adek gue yang meninggal beberapa bulan yang lalu Din..” Lata Avri seraya mengambil frame foto itu dari tangan gue.......... “Adek? Oh.. Maaf Av gue gak bermaksud.” Kata gue sambil mengusap pipi Avri yang udah basah karena air mata. Avri pun memegang tangan gue dan ituu membuat gue dag dig dug gak karuan.. “Dindyaa....” Kata Avri sambil meemeluk gue.. “Avri kenaapaa??” Gue iseng nanya ._. “Elo emang yang paling gue sayang deeehh....” Katanya sambil mengusap rambut gue, bikin gue tersenyum kecil dan geer parrahh.. Berharap dia nembak gue >.<


                        “Adek tersayang gueee.. Selamanyaa” JLEBBB.. Adek tersayang?? Jadi........... Selama ini........................... Gue Cuma dianggap............. ADEK?? “Maksud lo Av?” Gue bingung, “Lo itu emang pantas jadi pengganti adek gue yang hilang... Sifat lo itu emang udah copy banget dari adek gue..  Gue udah punya adek lagi sekarang!!! Dan itu eloo.. Jangan hilang lagi yaa dari kehidupan guee.” Katanya sambil memeluk gue erat lagi... Tiba-tiba.. Pintu terbuka keras dan Ita muuncull “Ohhh ada adek kamu sayang? Yaudah hari ini jadi kan? Aku tunggu di luar yaaa” Ita menatap gue sinis, menutup pintu, dan keluar.........
                       Gue terisak di dada Avri................... Kesedihan namun juga kebahagiaan tersendiri buat gue udah jadi ade Avri................ Avri sudah sukses membuat luka lebar di hati gue, dan gak bisa hilang sampai..... Sekarang .............................
                                                              
                                                           -The End-

IMPIAN SEDERHANA

Di sebuah kota kecil di jateng, tinggallah seorang ibu dan anak gadisnya disebuah rumah yang sederhana. Hanun, itu nama anak gadis yang kini sudah abg. Hanun baru kelas dua SMA. Dia sudah tidak punya ayah. Ayahnya meninggal waktu hanun berusia lima tahun. Sudah begitu dia sering kesepian karena gak punya saudara yang bisa di ajak main. Kehidupan mereka sederhana, ibunya bekerja dengan membuka warung makan kecil-kecillan, kadang hanun membuat kerajinan tangan dari barang bekas untuk menambah penghasilan.
“sudah nun, kalau capek kamu tidur dulu, besok berangkat pagi kan?” kata ibunya, sewaktu hanun membantu ibunya membereskan warung yang mau tutup.
“gak pa pa bu, hanun belum capek, masih pengen bantu ibu, dari pada gak ada kerjaan”
“ya sudah, tapi kalau lelah, jangan dipaksakan ya, ibu nggak mau sekolahmu terganggu”
“iya bu”
......................
Pagi harinya hanun berangkat sekolah dengan semangat seperti biasa.
“eh, nanti katanya jamnya bu elsa kosong” kata nina temennya hanun
“yang bener? Napa kosong?”
“kurang tau sih, kata ketua kelas sih gitu, nanti Cuma dikasih tugas merangkum”
“hehe,bagus deh” sekelas pasti seneng banget kalo bu elsa, guru paling galak itu tidak mengajar.
Waktu pulang sekolah, hanun melihat cewek yang kayaknya seumuran dia, cewek itu berjilbab, wajahnya seperti bercahaya dan tidak membosankan untuk terus menerus dilihat. Hanun merasa kagum, wanita itu seperti bidadari pikirnya. Dia suka melihat wanita itu. Entah kenapa tiba2 dia jadi pengen pake jilbab. Tapi dia segera bangun dari lamunannya. Dia sadar, untuk bayar uang sekolah aja kadang bisa kurang. Apalagi membeli segala keperluan untuk berjilbab. Tapi hanun tetap bertekad mewujudkan impiannya itu, dia ingin mencapainya dengan usahanya sendiri. Dia tidak tega meminta uang ibunya.
.............................
“mungkin gak ya aku bisa berjilbab dengan usahaku sendiri?” kata hanun dalam hati.
“aku harus lebih bekerja keras lagi mulai sekarang, harus!”
Sejak saat itu hanun semakin rajin membantu ibunya. Membuat kerajinan tangan, dan dia juga melamar menjadi penyiar radio distasiun radio daerahnya, setelah mengalami beberapa proses, akhirnya hanun diterima menjadi penyiar radio dan membawakan acara pada malam hari karena pagi,siang,sore dia harus sekolah dan membantu ibunya.
Dengan kerja kerasnya, hanun bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, meskipun sekolah sambil bekerja, tapi nilainya tidak pernah jeblog. Karena hanun emang anak yang cerdas.
Kadang dia ingat ayahnya. “ayah pasti seneng kalo aku udah berjilbab” katanya dalam hati.
....................................
Setelah beberapa kali menabung dari hasil kerjanya. Akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang yang lumayan banyak. Tanpa berpikir lama, dia langsung membeli apa yang dia butuhkan. Dia membeli barang2 kebutuhannya yang harganya terjangkau saja untuknya. Tidak terlalu banyak dan seperlunya saja.
Pada hari itu, hanun resmi berjilbab, waktu ibunya pulang, dia menemui ibunya untuk meminta pendapat dan memberitahu kalo dia akan berjilbab mulai sekarang. Itung2 sebagai kejutan untuk ibunya.
“bu, sekarang hanun mau berjilbab, menurut ibu bagaimana?”
“alhamdulillaaah, ibu senang sekaliii, jadi akhir2 ini kamu rajin bekerja agar bisa berjilbab? Kenapa tidak bilang sama ibu? Insya Alloh ibu kan bisa bantu”
“tapi, hanun kan pengen buat kejutan, hhehe”
“ayahmu pasti bangga” kemudian senyum mereka mengembang.
END

Jumat, 28 September 2012

Kepedihan Jiwa

Kisahku . . .
Tiada kurasa mulai ada jarak antara hati kita
Keraguan mulai merasuk dijiwaku
Tiada keyakinan akan ketulusanmu
Pedih , sakit hatiku karena sikapmu
Tiada kau peduli akan perasaanku
Dengan sesuka hatimu . . .
Kau mengingat masa lalumu
Tiada kau sadar akan laranganmu
Tiada kau perbolehkan aku mengingat masa laluku
Keegoisanmu meruntuhkan dinding dinding cintaku
Dinding cinta yang telah kubangun dengan kesetiaan
Hampir hancur lebur tertiup angin kepedihan
Tiada arti diriku dimatamu
Jikalau kau tiada sayang padaku
Aku hanya bisa memohon kepadamu
Lupakan aku
Lupakan semua kisah kita
Jika mungkin itu jalan terbaik
Aku rela tersakiti asal kau bahagia
Aku terima kepedihan jiwaku
Yang telah kau beri